Dalharmenyuruh pembantunya memberi tahu bahwa tamunya semalam adalah Nabi Khidir. Setelah mendapatkan jawaban itu, barulah ia mau beranjak dari tempat duduknya. Menurut keterangan Nyai Dalhar, dari sekian banyak santri KH. Dalhar, hanya Gus Miek yang berani dan diizinkan masuk ke kamar KH. Dalhar.
NabiKhidir sering datang ke Kedunglo menjumpai Mbah Ma'roef, dan kerap Nabi Khidir bermalam di panggung utara. Diriwayatkan oleh Mbah Makhsun dari Mojo Kediri. Mbah Makhsun adalah salah satu santri Mbah Ma'roef RA, namun setelah Mbah Ma'roef wafat beliau lalu nyantri ke pondok lain, ibunya bingung ditinggal dan mencari Mbah Makhsun
Darisini, Kyai Chalwani menegaskan bahwa doa bahasa Jawa Mbah Dalhar itu didapatkan dari ijazah Nabi Khidir. "Nabi Khidir sampai sekarang masih hidup. Bisa bahasa apa saja yang ada di dunia," kata Kyai Chalwani. Lebih lanjut ditegaskan, Syekh Mahmud Plumbon Cirebon nyusun kitab yang menerangkan kiai-kiai di Jawa yang sering bertemu Nabi Khidir.
Ceritatentang kehadiran Nabi Khidir masih sering kita dengar di sekitar kita. Ia aktif menjalin kontak dengan orang-orang dengan tingkat spiritual tertentu, yang biasanya disebut wali. Mbah Hamid Pasuruan, Mbah Dalhar Watucongol, atau Gus Miek, misalnya, dikisahkan sering ditemui Nabi Khidir.
Dalamhal adab selama di tanah suci, mbah Dalhar tidak pernah buang air kecil ataupun air besar di tanah Haram. Ketika merasa perlu untuk membuatng hajat, beliau lari keluar tanah Haram. Selain mengamalkan dzikir jahr 'ala thariqatis syadziliyyah, Mbah Dalhar juga senang melakukan dzikir sirr.
Meskipunmakam Mbah Dalhar berada di komplek makam Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari), namun pengelolaan makam Mbah Dalhar dikelola oleh pihak Watu Congol. Pelajaran dari Kisah Pertemuan Nabi Musa dan Nabi Khidir . 16/12/2019. Aqidah. Pandangan Ibnu Taimiyah Tentang 'Allah Duduk Diatas Arsy' yang Ditolak Para Ulama . 30/07/2020.
. “Maaf, Guru, tamu Guru tadi malam itu siapa?” Awalnya Mbah Dalhar enggan menjawabnya, tapi akhirnya berkenan menjelaskan bahwa tamu yang akrab itu adalah Nabi Khidir. Gus Miek sangat akrab dengan gurunya ini, bahkan Gus Miek inilah yang diijinkan masuk kamar pribadi Mbah Dalhar. Baca Juga Berangkat Haji, Kiai Hamid Pasuruan Bertemu Sayyid Muhammad di Depan Makam Rasulullah Delapan, Gus Miek Dididik Nabi Khidir di Sungai Brantas. Suatu hari, Gus Miek saat masih kecil suka mancing di Sungai Brantas. Saat itu ditemai seorang santri yang ditugaskan untuk selalu bersama Gus Miek. Gus Miek yang masih kecil tiba-tiba tenggelam dan membuat santri yang menemaninya itu panik bukan kepalang. Dicarinya di sepanjang sungai, Gus Miek belum juga ketemu. Santri itu akhirnya bingung dan dimarahi ayah Gus Miek, Kiai Jazuli. Santri itu akhirnya ditugaskan untuk terus mencari Gus Miek sampai ketemu. Saat kembali ke sungai, Gus Miek ternyata sudah berada di tepi sungai dalam keadaan normal seperti sebelumnya, ditanya dari mana saja dia, Gus Miek menjawab; “Tadi dibawa Nabi Khidir ke dalam sungai.”
Waktu menunjukkan jam dua belas tengah malam, pada saat itu sedang duduk-duduk beberapa santri. Tiba-tiba datang seorang tamu berbaju hitam dalam keadaan basah kuyup. Tangannya mencangking jala yang di dalamnya berisi ikan. Tamu ini maksa bertemu Kiai Moh Hasan, pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo. Dalam keadaan terpaksa maka di antarlah tamu itu langsung menuju kekediaman sang Kiai. Dan singkat cerita, ikan bawaan tamu itu langsung di suruh goreng oleh Kiai Moh. Hasan untuk dimakan bersama-sama dengan tamunya. Pada keesokan harinya sehabis sholat shubuh. Kiai Moh. Hasan memberi tahu kepada santri-santrinya yang berjama’ah di masjid; “tadi malam saya kedatangan….. Nabi Khidir!” Subhanallah. Baca Juga Waliyullah Genggong Buka Rahasia Cahaya Kewalian Kiai Hamid Pasuruan Tujuh, Kiai Dalhar Watucongol Akrab dengan Nabi Khidir. Saat itu Gus Miek masih nyantri kepada Mbah Dalhar Watucongol Magelang. Gus Miek biasa menata sandal Mbah Dalhar. Gus Miek tahu bahwa di dalam kamar, Mbah Dalhar sedang akrab bersama tamunya, karena ada sandal di luar yang diamati Gus Miek. Mbah Dalhar dan tamunya terdengar sangat akrab. Gus Miek terlena, tak melihat dalam sekejap, ternyata sandal tamu sudah gak ada. Akhirnya Gus Miek bertanya tentang tamu itu kepada gurunya.
MEDIA BLORA - Berikut penjelasan terkait doa sakti Allahumma ubat ubet KH Dalhar Watucongol Gunung Pring yang merupakan ijazah dari Nabi khidir. Masyarakat Indonesia terkenal dengan keberagaman suku dan budaya, sehingga ulama ulama dahulu menyesuaikan dengan budaya sekitar dalam mendakwahkan ajaran agama Islam. Ulama Nusantara memiliki cara khusus dalam mendidik dan mengajarkan agama kepada warga lokalnya, misalnya Sunan Kalijaga dengan metode wayang yang fenomenal. Baca Juga Doa Pelancar Rezeki, Cukup Baca 1 Kali Sebelum Tidur, Uang Datang dari Segala Penjuru Kyai-kyai di berbagai daerah memiliki gaya dan kearifannya masing-masing. Mereka bukan asal saja, tapi karena mencermati kemaslahatan yang diatur dalam kaidah agama. Termasuk diantaranya adalah doa-doa yang diajarkan dengan dalam bahasa Jawa. Dikutip MEDIA BLORA dari kanal facebook KH Chalwani Nawawi Berjan Purworejo, dijelaskan bahwa Mbah Dalhar Watucongol Magelang yang dimakamkan di makam Gunung Pring, memiliki doa khusus berbahasa Jawa yang fenomenal. Kyai Chalwani yang menjadi cucu menantu Mbah Dalhar menceritakan keramatnya doa Mbah Dalhar itu yang didapatkannya dari ayah mertuanya, yakni KH Ahmad Abdul Haq bin KH Dalhar. Baca Juga 5 Daftar Bansos yang Cair Mei 2022, Ada PKH, BPNT hingga Banpres BPUM 2022, Kamu dapat Bantuan yang Mana?"Saya dulu dapat ijazah dari ayah mertua saya, KH Ahmad Abdul Haq Dalhar Watucongol Magelang," kata Kyai Chalwani yang juga pengasuh Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo.
BERITA BANTUL -Karomah Mbah Dalhar Watu Congol Gunung Pring yang mendapat ijazah dari nabi khidir. Syeikh As_Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani, atau yang akrap di panggil Mbah Dalhar,merupakan ulama sekaligus tokoh nasionalis. Yang merupakan anak dari Abdurrahman bin Abdurrauf bin Hasan Tuqo, Mbah Dalhar lahir dari Keluarga santri taat. Mbah Dalhar merupakan wali Allah yang masyhur dikalangan masyarakat Indonesia khususya di daerah Gunung pering Magelang. Yang terkenal dengan kesaktian dan karomah-karomahnya sebagai ulama sekaligus kiyai masyhur dan tokoh nasionalis. Baca Juga Keteguhan Prinsip dan Keteguhan Prinsip Kiai Sahal Dari Pandangan Istri Beliau Hj. Nafisah Sahal Karomahya yang masyhur sampai sekarang adalah suaranya yang terdengar sampai jarak sekitar 300 meter, saat bertausiyah atu sedang mengisi pengajian. Dan juga mendapat ijazah dari Nabi Khidir, yang berupa doa agar di mudahkan mendapat rizki yang halal. Doa ini dikemas dalam bahasa jawa dan dibuat seperti syair agar memudahkan orang dalam mengamalkannya. Editor Amrullah Tags Terkini
Keberadaan Nabi Khidir hingga saat ini bukanlah mitos. Sebab sejumlah ulama pernah bertemu dengan kekasih Allah SWT tersebut. Ulama Indonesia yang pernah bertemu adalah Kiai Maimun Zubair atau Mbah Maimun dan Syaikhona Bangkalan atau Mbah Kholil Banglalan. Baca Juga Mengenal Sosok Al Idrisi, Ilmuan Geografi Termasyhur Abad Pertengahan Bahkan saat berkunjung ke Mbah Kholil Kholil Bangkalan, Nabi Khidir sempat menyeruput kopi milik Mbah Kholil Bangkalan. Selain dua ulama itu, Nabi Khidir juga menemui salah seorang ulama di Indonesia sampai-sampai sandalnya tertinggal. Gus Miek menjadi saksi bahwa Nabi Khidir kerap mengunjungi ulama di Indonesia. Saat Gus Miek menjadi santri Kyai Dalhar Watucongol, ia mempunyai kebiasaan untuk membersihkan sandal gurunya. Baca Juga Keramat Walisongo, Sunan Kalijaga Mengutuk para Santrinya yang Munafik dan Nakal Menjadi Kera Ekor Panjang Suatu saat Gus Miek kaget di depan kamar Kiai Dalhar terdapat dua pasang sandal yang sama persis termasuk ukurannya. Di tengah kebingungannya, Gus Miek akhirnya mengambil keputusan untuk membersihkan kedua pasang sandal tersebut.
mbah dalhar dan nabi khidir